PEMBANGUNANGEDUNG GEREJA PERSIAPAN PEMANDIRIAN Hari ini 5 Februari 2022 Mata Jemaat Sontetus Oepua-Jemaat-Oelet ulang tahun yang ke-17. Syukur Ulang Tahun Mata Jemaat dinyatakan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja yang baru untuk persiapan pemandirian mata Jemaat tersebut. Penambahan anggota jemaat membuat gedung gereja yang lama tidak bisa menampung saat beribadah dan Pembangunangedung gereja berukuran 27 X 15 meter ini didukung oleh para tukang lokal yang telah dilatih khusus oleh tenaga ahli dari Unwira dan IAI-NTT. Gedung gereja ini membutuhkan biaya kurang lebih 500 Juta Rupiah. Prosespembangunan Gedung Gereja #pos PI #SimbuangMappak BegitupulaBakal Jemaat "Bukit Zaitun", yang bersama-sama bekerja keras menyelesaikan pembangunan gedung gereja hanya kurang lebih 2 tahun. Pencapaian hari ini merupakan bukti sejarah bahwa sinergisitas warga jemaat, masyarakat setempat, bersama para pendeta sangat menentukan terlaksananya pekerjaan Tuhan yang baik di tanah Borneo. . “Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda”.” 1 Tawarikh 17 1 Keluarga yang bermukim di DKI Jakarta, tentunya memiliki mimpi untuk bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Banyak orang berlomba-lomba untuk bisa punya tempat tinggal – sekalipun harga rumah dan apartemen di DKI Jakarta tergolong mahal, sukar terjangkau oleh generasi milenial. Akan tetapi, kepemilikan tempat tinggal menjadi sesuatu yang didamba dan diupayakan oleh banyak orang, termasuk keluarga-keluarga muda. Jika pada akhirnya bisa memiliki tempat tinggal sendiri, rasanya plong. Pikiran lebih tenang. Hati pun riang dalam mengerjakan segala sesuatunya. Lalu, apa yang terjadi tatkala tempat tinggal sudah bisa dipenuhi? Bukan tidak mungkin, kita akan mengarahkan perhatian pada hal penting lainnya, seperti tabungan pendidikan anak atau kebutuhan lainnya. Hal yang menarik dilakukan oleh Daud, raja Israel. Dalam nas di atas, Daud bercakap-cakap dengan nabi Natan. Tersirat ada pernyataan syukur atas apa yang sudah Daud capai selama ini. Ia sudah berhasil membangun istana di Yerusalem lih. 1 Tawarikh 14 1 – 7; sebuah istana yang begitu megah. Daud katakan istananya terbuat dari kayu aras. Akan tetapi, Daud ternyata gelisah. Apa sebab? Daud sadar betul bahwa pencapaiannya selama ini tidak lain dan tidak bukan karena Tuhan Allah yang telah memberkatinya secara luar biasa. Tapi, tabut perjanjian Tuhan – representasi kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel – justru belum memiliki tempat yang permanen, masih disimpan di dalam tenda. Oleh karena itu, Daud menyampaikan kerinduannya kepada nabi Natan untuk membangun rumah Tuhan. Dalam perjalanannya, Tuhan tidak mengizinkan Daud untuk membangun rumah bagi-Nya, tetapi Salomo, putra Daud. Sekalipun begitu, jika kita membaca 1 Tawarikh 28 1 – 29 9, kita melihat bagaimana Daud terlibat dalam berbagai persiapan untuk membangun rumah Tuhan. Daud turut mempersembahkan hartanya untuk membangun rumah Tuhan tersebut lih. 1 Tawarikh 29 2 – 5. Saat ini, kita bersyukur jika GKI Kayu Putih sudah memiliki gedung gereja yang tergolong baik. Dalam perjalanannya Tuhan memberkati dengan pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Kita pun dipercaya untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang membangun hidup persekutuan, seperti Sekolah Bina Iman dan House of Grace. Juga, kita tengah mempersiapkan kegiatan yang lebih rutin untuk warga jemaat dengan disabilitas. Belum lagi, kita juga perlu memerhatikan kondisi lingkungan di sekitar gereja, di mana setiap minggu, banyak kendaraan yang parkir di sekitar area perumahan warga. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Majelis Jemaat GKI Kayu Putih sedang melakukan kegiatan pengadaan dana terkait penambahan gedung dan rencana pembangunan fasilitas pendukung pelayanan yang berlokasi di belakang gedung gereja. Kiranya kerinduan dan semangat Daud untuk membangun rumah Tuhan, bahkan memberikan persembahan guna pembangunan rumah Tuhan, juga dapat menjadi inspirasi bagi setiap kita. Ada perbedaan konteks antara kita dengan rumah Tuhan di zaman Daud. Namun keduanya sama-sama dimaksudkan untuk menunjang peribadahan umat kepada Allah. Marilah kita bawa dalam doa apa yang menjadi kerinduan kita terkait pengadaan dana tersebut, sehingga kita bisa menentukan partisipasi yang tepat seperti yang Allah kehendaki bagi kita. Soli Deo Gloria. Pdt. Natanael Setiadi Sumber / 20 October 2022 Claudia Jessica Official Writer Untuk mendukung pembangunan gedung Gereja Kalimantan Evangelis GKE, Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah, sekaligus Ketua Perwakilan Majelis Sinode GKE Wilayah Gunung Mas, Jaya S Monong mengajak jemaat dan seluruh pihak untuk berbagi berkat pada hari Rabu 19/10/2022. Saat meletakkan batu pertama pembangunan gedung GKE Pandohop Tumbang Miwan, Jaya berkata, “Saya mengajak jemaat dan seluruh pihak untuk mendukung pembangunan gedung gereja ini, dengan cara berbagi berkat.” Jaya berharap dengan bantuan seluruh pihak, pembangunan gedung gereja bisa segera selesai. Jaya mengingatkan bahwa hal yang utama dalam pembangunan gedung gereja ini adalah jemaat selalu mengandalkan Tuhan. Dengan mengandalkan Tuhan, Jaya yakin bahwa pembangunan gedung gereja akan berjalan dengan baik hingga selesai. Tak hanya membangun gereja secara fisik, pendeta, penatua, daikon, dan seluruh pekerja gereja diingatkan untuk meningkatkan pembangunan dari sisi kerohanian jemaat. “Saya yakin dan percaya, jika masyarakat kita takut akan Tuhan, maka mereka akan menghindari hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, salah satunya mereka akan menolak narkoba,” pungkas Jaya. Sementara itu, Ketua Pembangunan Gedung GKE Pandohop Tumbang Miwan, Nenengson memaparkan sejumlah alasan dan pertimbangan dari keputusan jemaat untuk membangun gedung gereja baru. Pasalnya gedung gereja yang selama ini digunakan membutuhkan perbaikan lantaran bagian atas yang sudah mulai lapuk, atap yang bocor, dinding beton yang sudah banyak retak. Pertimbangan lainnya adalah mengingat saat ini gedung gereja berada di atas tanah yang tinggi dan berhadapan langsung dengan jalan raya, membuat kondisi ini dinilai membahayakan pengguna jalan dan jemaat yang harus keluar-masuk gereja, terutama anak-anak. Tempat parkir yang ada saat ini juga dinilai sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya jemaat dari Gereja Kalimantan Evangelis. Menurut perencanaannya, gedung gereja yang baru akan dibangun di atas lahan seluas 100 x 42 meter, dan gamabaran global lebar dan panjang bangunan adalah 15 x 18 meter. Melihat kondisi keuangan yang ada saat ini, panitia berharap dapat menyelesaikan pembangunan pondasi dan untuk selanjutnya panitia berharap ada berkat dari berbagai pihak. Nenengson menyampaikan bahwa sejauh ini beberapa pihak telah mendukung pembangunan gedung gereja baru, baik dalam bentuk dana, sumbangan bahan bangunan, saran, dan lain sebagainya. “Saya juga menyampaikan terima kasih kepada warga jemaat GKE Pandohop Tumbang Miwan, atas partisipasi, kerja sama dan kebersamaan selama ini, dalam membangun gedung gereja yang baru,” demikian Nenengson. Sumber Halaman 1 SULTENG, Sinode ke-47 Gereja Kristen Sulawesi Tengah GKST terasa lebih istimewa, karena hampir bertepatan dengan HUT ke-74 GKST, yang jatuh pada 18 Oktober 2021. Demikian diungkapkan Pdt. Em Onesimus Kambodji, dalam khotbah ketika memimpin ibadah pembukaan Sidang Sinode ke-47 Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Gedung Pesparawi, Beteleme, Morowali Utara 11/11/2021. Sidang Sinode kali ini diikuti 500 an peserta yang dibagi dalam empat gedung gereja terdekat dengan Gedung Pesparawi, yang dihubungkan dengan fasilitas teknologi zoom meeting, guna menaati ketentuan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19. Sidang kali ini memiliki empat agenda pokok yakni evaluasi laporan pertanggungjawaban Majelis Sinode periode 2016-2021, Amandemen Tata Gereja, Penyusunan Program 2021-2026 dan Pemilihan Majelis Sinode masa bhakti 2021-2026. Ketua Panitia Sidang, Krispen H. Masu dalam laporannya mengatakan bahwa tema Sidang Sinode ke-47 GKST, diambil dari ayat Alkitab Wahyu 2212-13, yakni “Aku adalah yang awal dan yang akhir”, sedangkan sub tema adalah “hanya dengan berharap pada Allah yang membebaskan serta memulihkan, GKST senantiasa memperjuangkan keadilan, keamanan, kesehatan dan kesejahteraan”. Sidang Sinode ke-47 GKST dibuka Gubernur Sulteng yang diwakili Asisten III Setdaprov, Moeljono, dan juga dihadiri sejumlah Bupati. Selain Bupati Morowali Utara, Delis J. Hehi sebagai tuan rumah, hadir juga sejumlah kepala daerah yang wilayahnya terdapat Gereja GKST, yakni Bupati Poso, Verna Inkiriwang, Bupati Sigi, Moh. Irwan Lapatta, Wabub Sigi, Samuel Y. Pongi, serta Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Budiman. Juga hadir tokoh-tokoh gereja seperti Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia PGI Wilayah Sulut, Gorontalo dan Sulteng, Ketua Bamag Provinsi Sulteng Lucky Semen yang juga anggota DPD RI, Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Provinsi Sulteng dan Pembimas Kristen dari sejumlah kabupaten serta Ketua MUI Kabupaten Morowali Utara. Hadir pula Ketua Tim Penyusunan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Bahasa Daerah Mori, Pdt. M. Tomana. GKST sudah memberikan konstribusi nyata Dalam sejarah perjalannya selama 74 tahun kehadirannya, GKST telah memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional, bukan hanya di bidang spiritual keagamaan, tetapi juga pendidikan dan kesehatan. “GKST melalui yayasannya, memiliki sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan SMU serta perguruan tinggi. Juga memiliki rumah sakit untuk melayani kesehatan masyarakat,”. Demikian diungkapkan Bupati Morowali Utara Dr. dr. Delis Julkarson Hehi dalam sambutannya. Lebih jauh Delis mengungkapkan bahwa lewat Sidang Sinode ke-47 ini, GKST akan terus menunjukan eksistensinya dalam pembangunan manusia Indonesia, serta memberi kontribusi nyata bagi Sulteng dan Indonesia. GKST lewat sidang sinode, akan terus menunjukkan eksistensi dalam memberi pelayanan kepada bangsa dan negara. Bagian lain, Ketua Majelis Sinode GKST, Pdt. Jetroson Rense, yang akan segera demisioner, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan Sidang Sinode ke-47. Pengurus Sinode GKST 2021-2026 Dalam sidang ini terpilih sebagai pengurus Sinode GEREJA KRISTEN SULAWESI TENGAH Periode 2022-2026 sebagai berikut Ketua Umum Pdt. Djadaramo Tasiabe, Ketua 1 Pdt. DR. Tertius Lantigimo, Ketua 2 Pdt. Robinson Perutu, Sekretaris Umum Pdt. Jetroson Rense, Wakil Sekretaris Pdt. Elieser Meringgi, Bendahara Umum Pdt. Maisuri Botilangi, Wakil Bendaraha Pdt. Nurna Tokede, BPP GKST Periode 2021-2026 Ketua Pdt Abisai Sigilipu, Sekretaris Pnt BJS Tuwuntjaki dan anggota Pdt. Yuko Kombuno. Pewarta Aleksander Mangoting Post Views 683 Kebaktian sykuran & peletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Maranathta Nifu Hue klasis Amanuban Timur Sabtu, 11 Mei 2019 menjadi hari bersejarah dalam pergumulan pelayanan jemaa GMIT Maranatha Nifuhu’e, klasis Amanuban Timur. Jemaat mengucap syukur karena telah dibangunnya pondasi gedung kebaktian yang baru ditandai dengan kebaktian syukuran peletakan batu pertama secara simbolis. Maranatha Nifuhu’e adalah salah satu mata jemaat dari lima mata jemaat dalam jemaat bermata jemaat yang Diberi nama Anugerah Mauleum. Mata jemaat Maratha Nifu Hue memiliki 82 kepala keluarga KK dengan mata pencaharian utama adalah petani lahan kering yang hanya bekerja saat musim hujan tiba untuk satu kali panen yang kemudian digunakan untuk kebutuhan hidup sepanjang tahun. Pergumulan paling mendasar dalam jemaat ini adalah kesenjangan sosial terkhususnya mengenai kebutuhan hidup sehari-hari. Di tengah-tengah pergumulan ini, jemaat memberi diri dan semangat mereka untuk membangun sebuah gedung kebaktian yang baru dengan ukuran 12 x 252 meter karena gedung kebaktian yang sekarang tidak layak lagi. Semangat ini dibuktikan dengan pengerjaan fondasi dalam waktu kurang lebih 2 hari. Selain itu, adapun pihak lain yang mendukung kegiatan pembangunan ini yakni anak-anak jemaat yang berada di luar daerah, swadaya jemaat dan dukungan para donatur. Acara peletakan Batu pertama diawali dengan Ibadah Syukur yang dipimpin oleh Vikaris Selvina Balawa-Laimeheriwa, Liturgos dan Pendeta Saneb Y. E. Blegur, Pengkhotbah. Mendasari Bacaan Kitab Suci berdasarkan Hagai 2 16 – 20. Pendeta saneb menyampaikan ….pokok Hagai adalah seorang Nabi Yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan Isi Hati Allah yaitu mengingkatkan bangsa Israel untuk membangun kembali Bait SUci yang telah Penting juga untuk membangun gedung gereja apalagi gedung gereja suda tidak layak, rusak dan tidak representasi lagi namun lebih penting adalah membangun gereja yang hidup yakni mengutkan iman, melayankan pemberitaan Firman Tuhan kepada jemaat , bersama menaikan puji-pujian , memecahkan roti untuk melayani orang miskin dan terbelenggu seperti yang tertulis dalam Nats pembimbing Kisa rasul 2 43 jangan karena alasan pembangunan seorang penatua , diaken dan pengajar tidak lagi memberitakan firman Tuhan , jangan karena alasan pembanguann gedung gereja mulai kosong karna alsan cape bekerja sepanjang hari, jangan karena alasan Jemaat dikasih disiplin dengan tidak melayani mereka karena tidak setor iuran pembangunan bangun gedung gereja memang penting tetapi lebih penting adalah bangun Gereja-Nya karena di surge Tuhan tidak Tanya selama menjadi penatua berapa banyak gedung gereja yang dibangun melainkan berapa banyak orang yang datang ikut Tuhan . Pdt saneb juga mengingatkan bahwa kecenderungan orang membangun Gedung gereja dimana-mana sealu hanya untuk mencari nama besar, cari pujian sehingga pekerjaan pembangunan tidak jarang dirundung konflik hingga berujung pada perpecahan karena itu mata jemaat Maranatha harus menjadi contoh yang baik bagi jemaat-jemaat Lain yakni harus menjadi teladan dalam hal pembangunan Gedung gereja . gereja yang dibangun ini adalah milik Tuhan, Rumah Tuhan , sebagai tempat orang percaya berjumpa dengan Tuhan dan memuliakan namamanya bukan untuk mencari nama besar bagi suku, keluarga , marga tertentu Kegiatan ini juga dihadiri oleh pemerintah Desa Mauleum, dalam sambutannya Kepala Desa Mauleum Bpk Zakarias Kikhau menekankan tentang pentingnya kerja sama dan partisipasi jemaat dalam pekerjaan pembangunan. yang paling penting adalah partisipasi. Kalau mau membangun berarti mau memberi diri untuk ikut berpartisipasi Sebagai pejabat pemerintah di desa Mauleum, ia memberi dukungan sepenuhnya untuk proses pembangunan karena menurutnya berhasil atau tidaknya pekerjaan pembangunan sangat tergantung pada kesiapan diri seluruh jemaat marantha Nifu Hue. Dalam Acara Peletakan Batu Pertama secara simbolis dipercayakan kepada Ketua Majelis Klasis Amanuban Timur Pdt. Saneb Blegur, Kepala Desa Mauleum Zakarias Kikhau Perwakilan Tokoh Jemaat Jeremias Tasib Ketua Majelis Jemaat Anugerah Pdt. Wiliradith Maniley, Acara ini dihadiri oleh Jemaat dan para undangan dan diakhiri dengan Ramah Tamah bersama. Vicaris Jeny Makleat

khotbah pembangunan gedung gereja